AS CHRIST WELCOME US
Lets us Share His Love Through Lunar New year!
"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah".
1 Yohanes 4:7-8
Apa itu Lunar New year?
Lunar New Year atau Tahun Baru Imlek, atau dalam bahasa Mandarin disebut Chunjie (春节), merupakan perayaan tahunan yang paling penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Perayaan ini menandai awal tahun baru berdasarkan kalender lunar Tionghoa. Tahun Baru ini juga biasanya dimulai sebagai hari seremonial untuk berdoa kepada dewa atau leluhur yang telah meninggal untuk memohon berkat dan panen yang baik (tidak semua, karena sudah banyak orang Tionghoa, terkhususnya Kristen Tionghoa merayakan Lunar New Year hanya sekedar sebagai Festifal budaya).
Asal-Usul dan Sejarah
Salah satu cerita rakyat yang paling populer terkait asal-usul Tahun Baru Imlek adalah legenda tentang monster Nian. Konon, Nian adalah makhluk mitos yang muncul pada malam tahun baru untuk memakan tanaman dan hewan ternak, bahkan anak-anak. Orang-orang ketakutan dan menyembunyikan diri di rumah. Seorang anak kecil yang cerdas menyadari bahwa Nian takut pada warna merah, suara keras, dan cahaya terang. Sejak saat itu, orang-orang mulai menghias rumah mereka dengan warna merah, menyalakan petasan, dan menari barongsai untuk mengusir Nian. Selain legenda Nian, Tahun Baru Imlek juga memiliki akar dalam tradisi persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa. Perayaan ini merupakan waktu untuk menghormati nenek moyang dan memohon berkah untuk tahun yang akan datang.
Jika definisi dan sejarah dari Tahun Baru Imlek demikian maka apa yang harus dilakukan? Apakah kita tidak perlu merayakan?
Pertama-tama Alkitab tidak melarang kita untuk berpartisipasi dalam festival budaya (cara merayakan dan mempromosikan budaya). Budaya yang benar adalah anugerah Tuhan. Sehingga tidak ada yang salah dengan menghadiri atau merayakan hal tersebut. Kita tidak mungkin kehilangan iman kita hanya dengan menghadiri festival budaya. Yang perlu kita hindari adalah Festival budaya yang ada unsur keagaamannya seperti adanya penyembahan kepada dewa atau roh nenek moyang. Karena Alkitab melarang kita untuk melakukan penyembahan berhala “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yohanes 5:21). Sehingga orang Kristen boleh merayakan imlek dalam konteks berpartisipasi dalam festival budaya. Orang Kristen Tionghoa juga perlu merayakan Tahun Baru Imlek untuk menghargai dan mengerti warisan etnis mereka.
Kedua, berdasarkan landasan ayat pada perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini yakni 1 Yohanes 4:7-8 maka sangat baik sekali kalau peryaan ini kita maknai sebagai moment untuk membagikan kasih kepada orang lain. Kita berbagai kasih melalui rasa syukur akan keluarga dan kerabat, atas apa yang kita punya dan bisa kita bagikan, momen untuk rekonsiliasi dengan sesama, bahkan sebagai momen untuk penginjilan. Rasul Yohanes meminta pembacanya untuk saling mengasihi (1 Yohanes 4:7-8). Ia bahkan memberikan tekanan sebagai alasan mengapa orang Kristen harus mengasihi yaitu bahwa kasih berasal dari Allah. Ia adalah sumber dan pengerak kasih, bahkan kasih adalah inti dalam hukum taurat dan injil. Sehingga jika orang Kristen tidak bertabiat dan bercorak kasih maka ia bukan orang yang mengenal Allah atau tidak berasal dari Allah.
Jadi bagaiamana orang Kristen merayakan Tahun Baru Imlek? Yaitu dengan menjadikan momen tersebut sebagai waktu untuk mengasihi sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui Rasul Yohanes di atas dengan melakukan hal-hal berikut:
- Menyatakan kasih dalam ucapan syukur kepada Allah à Kita tidak menggunakan tahun baru imlek untuk menyembah dewa melaikan untuk bersyukur kepada Tuhan. Saat kita mengadakan makan malam reuni keluarga. Kita menggunakan momen tersebut untuk bersyukur atas belas kasihan Tuhan dalam menyediakan dan melindungi keluarga kita.
- Menyatakan kasih dalam menghormati Tuhan dengan harta Kita à kita tidak merayakan tahun baru imlek untuk menyambut keberuntungan dan kekayaan. Namun waktu bagi kita untuk berefleksi bahwa segala yang kita punya datangnya dari Tuhan. Keberuntungan kita satu-satunya yang paling berharga dan ultimat adalah keselamatan kita didalam Kristus. Keberuntungan tersebut melebihi harta kekayaan. Jika memang kita diberikan berkat dalam hal kekayaan maka kita juga dipercayakan untuk memberi memberi dan menghormati Tuhan dengan harta kita (misalnya, memberi kepada Tuhan dan sesama).
- Menyatakan kasih dalam memperbaiki dan memperkuat relasi persaudaraan à kita tidak merayakan tahun baru imlek hanya dengan reuni keluarga atau memberi dan menerima ampau saja. Tapi Tahun Baru Imlek adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kasih dan rasa hormat kepada orang tua dan kerabat yang sudah lanjut usia. Melalui karunia kata-kata dan kehadiran kita, kita dapat menunjukkan rasa hormat kepada mereka. Ini juga adalah waktu untuk berhubungan kembali dengan saudara dan teman. Sebagaimana Tuhan telah memerintahkan kita untuk mengasihi sesama, marilah kita menggunakan momen ini untuk mengungkapkan kasih kita kepada orang-orang disektira kita. Jika ada ikatan keluarga atau persahabatan yang telah putus. Kita menggunakan tahun baru imblek untuk rekonsiliasi dengan orang tersebut.
- Menyatakan kasih dalam penginjilanà Tahun Baru Imlek adalah waktu yang tepat untuk berbagi kasih Tuhan dengan orang-orang terkasih, saudara, dan teman. Pada kesempatan khusus ini, marilah kita berdoa memohon keberanian menceritakan Kristus dengan orang-orang yang kita temui. Karena sangatlah indah jika orang lain mengenal tentang Tuhan Yesus dan menerimanya sebagai Juruselamat.
Dengan demikian maka Tuhan menjadi pusat perayaan Tahun Baru Imlek.
Pertanyaan Refelsi:
- Mengapa orang Kristen menggunakan momen Tahun Baru Imlek untuk menyatakan kasih Kristus?
- Dalam Tindakan seperti apa yang perlu dilakukan oleh orang Kristen dalam Tahun Baru Imlek sebagai bentuk mengasihi sesama?
- Apa keberuntungan terbesar orang Kristen? Mengapa?